Wednesday, 8 July 2020

Jenis-Jenis / Tipe Kebakaran

Terdapat beberapa jenis kebakaran sesuai dengan sumber api, klasifikasi ini direpresentasikan dengan huruf A, B, C, D.
a. Kebakaran Tipe A
Kebakaran benda padat seperti kayu, kertas, tekstil, pakaian, bahan-bahan paking termasuk ke dalam kebakaran tipe A.
b. Kebakaran Tipe B
Kebakaran tipe B merupakan kebakaran benda cair, seperti bensin, solar, minyak tanah, cat, terpentin, kerosin, grease, lemak, lilin, cat, dan tinner.
c. Kebakaran Tipe C
Kebakaran tipe C terjadi akibat adanya arus listrik dan peralatan listrik, seperti dudukan lampu, motor, generator, kabel, kawat sakelar, dan peralatan elektronik.
d. Kebakaran Tipe D
Kebakaran tipe D merupakan jenis kebakaran dari bahan-bahan logam yang mampu dibakar, seperti kalium, natrium, dan magnesium.

Sunday, 5 July 2020

Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

baiklah teman-teman disini saya akan berbagi sedikit tentang materi teknologi dasar otomotif , yaitu tentang APAR ( alat pemadam api ringan)

a, Pengertian Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
Alat pemadam api ringan adalah perangkat perlindungan kebakaran aktif yang digunakan untuk memadamkan api atau mengendalikan kebakaran kecil, umumnya dalam situasi darurat. Alat pemadam api ini tidak dirancang untuk digunakan pada kebakaran yang sudah tidak terkontrol, misalnya ketika terjadi kebakaran sebuah toko dan api telah menjalar ke seluruh toko. Umumnya alat pemadam api terdiri dari sebuah tabung bertekanan tinggi yang berisi zat-zat pemadam yang dapat dibuang (disemprotkan keluar) untuk memadamkan sebuah kebakaran.

b. Jenis-Jenis APAR
Alat pemadam api ringan memiliki beragam jenis, yaitu APAR jenis air,powder, foam (busa), dan CO, (karbon dioksida). Sebuah APAR dapat digunakan untuk lebih dari satu klasifikasi kebakaran bergantung pada jenis zat pemadam yang digunakan.
I) APAR Jenis Air
APAR jenis air biasanya digunakan untuk pemadaman kebakaran tipe A, yaitu untuk benda padat selain logam, seperti kayu, kertas, knin atau karet. APAR jenis air berfungsi memutuskan sumber panas/api.
2) APAR Jenis Powder
APAR jenis ini berfungsi untuk memutuskan oksigen dan banyak digunakan di kantor-kantor atau fasilitas umum, seperti pusat perbelanjaan. Berdasarkan kelas kebakaran, ada 3 tipe APAR jenis powder, yaitu regular, multi purpose, dan special dry powder.
a. APAR Powder Reguler: tepung kimia yang efektif untuk memadamkan kebakaran tipe B dan C. APAR powder reguler antara lain natrium karbonat, kalium karbonat, kalium bikarbonat, kalium klorida.
b. APAR Powder Multi Purpose: tepung kimia untuk memadamkan kebakaran tipe A, B, dan C. Powder multi purpose, antara lain mono ammonium fosfat.
c. APAR Special Dry Powder: tepung kimia yang efektif untuk pemadam kebakaran tipe D. Special dry powder ini berisi campuran kalium klorida, magnesium klorida, natrium klorida, dan kalsium klorida.
3) APAR Jenis Foam (Busa) 
APAR jenis foam (busa) cocok untuk kebakaran tipe A dan B. APAR jenis ini sangat efektif untuk mencegah api menyala kembali setelah pemadaman. Foam (busa) membentuk segel di sekitar bidang yang terbakar dan mencegah pengapian ulang.
4) APAR Jenis CO, (Karbon Dioksida)
APAR jenis CO, sangat cocok untuk memadamkan kebakaran tipe B dan C. APAR ini memiliki kinerja yang tidak merusak dan sangat efektit. 

Monday, 8 June 2020

CARA BALANCING RODA

1. Alat Balancing Roda
Balancing Roda yang kita praktekan disini tidak jauh dengan balancing roda sebelumnya, disini kita memakai alat Balancing Roda itu sendiri menggunakan alat yang seperti gambar dibawah.
sebelum melalkukan pengoprasian pada mesin tersebut, yang utama kita harus menyalurkan colokan kekabel, kemudian tekan on pada tombol yang terapat di belakang mesin setelah alat itu sudah menyala maka alat siap untuk digunakan.

2. Alur Balancing Roda
a. Memasang Ban



b. Alat – alat yang di gunakan
1. Palu penambah penyeimbang

2. Penggaris lebar velg

3. Penyeimbang

c. Proses Balancing
1) Layar pada Alu 1

2) Next, Kemudian Masuk Kelayar berikutnya untuk mengukur Lebar Ring
3) Next, kemudian akan muncul layar berikut untuk mengatur Ring roda

4) Next, Kemudian akan muncul layar berikut untuk mengatu Diameter Ring
5) Next, kemudian layar akan memerintahkan untuk menutup bag untuk pengecekan
6) Kemudian akan otomatis pada layar keluar angka berat penyeimbang pada kanan dan kiri ring, dalam proses kali ini  kita atur angka yang sebelah kanan dulu, paskan arah panah kea rah kanan dulu, setelah itu pasangkan berat penyeimbang seperti angka yang terdapat di layar, untuk pengaturan sebelah kanan sama dengan proses yang di sebelah kanan.

7) Start, Kemudian Tutup Kembali Bag Untuk Pengecekan.

8) Setelah itu akan Muncul di layar angka berat penyeimbangnya, jika angka kanan dan kiri sudah 0, maka roda sudah selesai di Balancing.

Friday, 29 May 2020

Cara Kerja dan Jenis Kopling Gesek Pada Mobil

Pada kendaraan bermotor selalu dilengkapi dengan kopling yang berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan putaran mesin ke transmisi. salah satu jenis kopling adalah kopling gesek.
Kopling gesek (Friction Clutch) adalah proses pemindahan tenaga melalui gesekan antara bagian penggerak (mesin) dengan yang akan digerakan (transmisi). Konsep kopling ini banyak dipergunakan pada  sistem pemindah tenaga kendaraan, khususnya pada kendaraan ringan, sepeda motor, sedan dan mobil penumpang lainnya.

gambar kopling gesek

Ditinjau dari bentuk bidang geseknya kopling dibedakan menjadi 2 yaitu : 
(1) Kopling piringan (disc clutch) Kopling piringan adalah unit kopling dengan bidang gesek berbentuk piringan atau disc. 
(2) Kopling konis (cone clutch) Kopling konis adalah unit kopling dengan bidang gesek berbentuk konis. 
Ditinjau dari jumlah piringan/ plat yang digunakan kopling dibedakan menjadi 2 yaitu : 
(1) Kopling plat tunggal Kopling plat tunggal adalah unit kopling dengan jumlah piringan koplingnya hanya satu.
 
gambar kopling gesek plat tunggal
(2) Kopling plat ganda/ banyak Kopling plat banyak adalah unit kopling dengan jumlah piringan lebih dari satu.
 
gambar kopling gesek plat ganda
Ditinjau dari lingkungan/media kerja, kopling dibedakan menjadi : 
(1) Kopling basah Kopling basah adalah unit kopling dengan bidang gesek (piringan atau disc) terendam cairan/ minyak. Aplikasi kopling basah umumnya pada jenis atau tipe plat banyak, dimana kenyamanan berkendara yang diutamakan dengan proses kerja kopling tahapannya panjang, sehingga banyak terjadi gesekan/slip pada bidang gesek kopling dan perlu pendinginan. 
(2) Kopling kering Kopling kering adalah unit kopling dengan bidang gesek (piringan atau disc) tidak terendam cairan/ minyak (dan bahkan tidak boleh ada cairan/ minyak).

Ditinjau dari pegas penekannya, kopling dibedakan menjadi : 
(1). Kopling pegas spiral Adalah unit kopling dengan pegas penekannya berbentuk spiral. Dalam pemakaiannya dikendaraan kopling dengan pegas coil memiliki kelebihan : penekanannya kuat dan kerjanya cepat/ spontan. Sedangkan kekurangannya : penekanan kopling berat, tekanan pada plat penekan kurang merata, jika kampas kopling aus maka daya tekan berkurang, terpengaruh oleh gaya sentrifugal pada kecepatan tinggi dan komponennya lebih banyak, sehingga kebanyakan kopling pegas spiral ini digunakan pada kendaraan menengah dan berat yang mengutamakan kekuatan dan bekerja pada putaran lambat.
 
gambar kopling pegas spiral
(2). Kopling pegas diaphragma Adalah unit kopling dengan pegas penekannya berbentuk diaphragma. Penggunaan pegas diaphragma mengatasi kekurangan dari pegas spiral. Namun pegas diaphragma mempunyai kekurangan : kontruksinya tidak sekuat pegas spiral dan kurang responsive (kerjanya lebih lambat), sehingga kebanyakan kopling pegas diaphragm ini digunakan pada kendaraan ringan yang mengutamakan kenyamanan.
 
gambar kopling pegas diafragma

Cara kerja kopling gesek 
Kopling berfungsi untuk memindahkan tenaga secara halus dari mesin ke transmisi melalui adanya gesekan antara plat kopling dengan fly wheel dan plat penekan. Kekuatan gesekan diatur oleh pegas penekan yang dikontrol oleh pengemudi melalui mekanisme penggerak kopling. 
Jika pedal kopling ditekan penuh, tekanan pedal tersebut akan diteruskan oleh mekanisme penggerak sehingga akan mendorong plat penekan melawan tekanan pegas penekan sehingga plat kopling tidak mendapat tekanan. Gesekan antara plat kopling dengan fly wheel dan plat penekan tidak terjadi sehingga putaran mesin tidak diteruskan. 
Jika pedal kopling ditekan sebagian/ setengah, tekanan pedal tersebut akan diteruskan oleh mekanisme penggerak sehingga akan mendorong plat penekan melawan sebagain/ setengah tekanan pegas penekan sehingga tekanan plat penekan ke fly wheel berkurang, sehingga plat kopling akan slip. Gesekan antara plat kopling dengan fly wheel dan plat penekan kecil sehingga putaran dan daya mesin diteruskan sebagian. 
Apabila pedal dilepaskan maka gaya pegas akan kembali mendorong dengan penuh plat penekan. Plat penekan menghimpit plat kopling ke fly wheel dengan kuat sehingga terjadi gesekan kuat dan berputar bersamaan. Dengan demikian putaran dan daya mesin diteruskan sepenuhnya (100%) tanpa slip.
 
gambar cara kerja kopling

Tuesday, 7 April 2020

Pengertian dan Tujuan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

1. Pengertian Keselamatan Kerja
Safe adalah aman atau selamat. Menurut kamus adalah mutu suatu keadaan aman atau
kebebasan dari bahaya dan kecelakaan. Jadi Keselamatan kerja atau safety adalah suatu usaha untuk menciptakan keadaan lingkungan kerja yang aman bebas dari kecelakaan.
Kecelakaan adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan atau tidak disengaja serta tiba-tiba dan menimbulkan kerugian, baik harta maupun jiwa manusia.
Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja atau sedang melakukan pekerjaan disuatu tempat kerja.
Keselamatan kerja adalah menjamin keadaan, keutuhan dan kesempurnaan, baik jasmaniah maupun rohaniah manusia serta hasil karya dan budayanya tertuju pada kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan manusia pada khususnya.
secara umum keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah suatu bentuk usaha untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, bebas dari kecelakaan kerja, baik terhadap manusia, alat, maupun benda kerja.

2. Tujuan keselamatan dan kesehatan kerja
Dari pemahaman diatas sasaran keselamatan kerja adalah:
a) Mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
b) Mencegah timbulnya penyakit akibat suatu pekerjaan.
c) Mencegah/ mengurangi kematian.
d) Mencegah/mengurangi cacat tetap.
e) Mengamankan material, konstruksi, pemakaian, pemeliharaan bangunan, alat-alat kerja, mesin-mesin, instalasi dan lain sebagainya.
f) Meningkatkan produktivitas kerja tanpa memeras tenaga kerja dan menjamin kehidupan produktifnya.
g) Mencegah pemborosan tenaga kerja, modal, alat dan sumbersumber produksi lainnya.
h) Menjamin tempat kerja yang sehat, bersih, nyaman dan aman sehingga dapat menimbulkan kegembiraan semangat kerja.
i) Memperlancar, meningkatkan dan mengamankan produksi industri serta pembangunan
Dari sasaran tersebut maka keselamatan kerja ditujukan bagi:
1. Manusia (pekerja dan masyarakat)
2. Benda (alat, mesin, bangunan dll)
3. Lingkungan (air, udara, cahaya, tanah, hewan dan tumbuhtumbuhan).

3) Syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja
Menurut Undang-undang Nomor 1 tahun 1970 pasal 3 syaratsyarat keselamatan kerja ayat 1 bahwa dengan peraturan perundang-undangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk:
a) Mencegah dan mengurangi kecelakaan
b) Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran
c) Mencegah dan mengurang bahaya peledakan
d) Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian lain yang berbahaya
e) Memberi pertolongan pada kecelakaan
f) Memberi alat perlindungan diri kepada para pekerja
g) Mencegah dan mengendalikan timbulnya atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan gelora.
h) Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun psikis, keracunan, infeksi dan penularan.
i) Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.
j) Memelihara kebersihan, keselamatan dan ketertiban.
k) Memperoleh keserasian antara tenaga kerja dan alat kerja.
l) Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang-orang, binatang, tanaman atau barang.
m) Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.
n) Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan barang.
o) Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya.
p) Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

semoga bermanfaat..